June 19, 2024

Ada Gempa, Lanjutkan Shalat atau Batalkan ?

Ustadz, jika kita sedang salat kemudian terjadi gempa. Apakah lebih baik membatalkan salat dan menyelamatkan diri ataukah melanjutkan salat? Dan apakah yang menyelamatkan diri berarti imannya kurang?

Jawaban:

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in,

Islam melarang manusia untuk menjerumuskan dirinya dalam bahaya. Allah ta’ala berfirman:

وَلا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ

“Dan janganlah jerumuskan diri kalian dalam kebinasaan” (QS. Al-Baqarah: 195).

Asy-Syaukani rahimahullah menjelaskan ayat ini:

وَالْحَقُّ أَنَّ الِاعْتِبَارَ بِعُمُومِ اللَّفْظِ لَا بِخُصُوصِ السَّبَبِ، فَكُلُّ مَا صَدَقَ عَلَيْهِ أَنَّهُ تَهْلُكَةٌ فِي الدِّينِ أَوِ الدُّنْيَا ، فَهُوَ دَاخِلٌ فِي هَذَا، وَبِهِ قَالَ ابْنُ جَرِيرٍ الطَّبَرِيُّ

“Pendapat yang benar dalam memahami ayat ini adalah menerapkan keumuman lafaznya bukan kekhususan sebabnya. Maka semua perkara yang valid sebagai suatu bahaya bagi agama dan dunia seseorang, ia termasuk dalam keumuman ayat ini. Ini pendapat yang dikuatkan oleh Ath-Thabari” (Fathul Qadir, 1/222).

Sehingga salah satu yang termasuk dalam keumuman ayat ini adalah bahaya gempa. Tidak boleh seseorang membiarkan dirinya terkena potensi bahaya gempa, dengan terus melanjutkan salat. Wajib baginya untuk segera membatalkan salatnya dan menyelamatkan dirinya. 

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menjelaskan:

يجب تقديم الخطر، فإذا كان هناك خطر غرقٍ أو حريق؛ لا مانع من قطع الصلاة، بل قد يجب قطعها إذا كان يتحقق في الخطر، فتُقطع وتُقْضَى بعد ذلك، هذا هو الصواب، فالنبي ﷺ لما اشتدَّت الحربُ مع الأحزاب يوم الأحزاب أخَّر الظهر والعصر حتى صلاها بعد المغرب؛ لشدَّة الحرب، والصحابة يوم تُستر في قتال فارس لما اشتدَّت بهم الحرب أذان الفجر، وصار بعضُهم على أبواب البلد، وبعضهم على الأسوار؛ أخَّروا صلاة الفجر وصلوها ضُحًى.

“Wajib mendahulukan keselamatan dari bahaya. Jika ada bahaya berupa tenggelam atau kebakaran, maka tidak mengapa membatalkan salat. Bahkan wajib membatalkannya, jika bahayanya benar-benar nyata. Batalkan salatnya kemudian nanti diqada. Inilah yang benar. Nabi shallallahu’alaihi wasallam ketika perang berkecamuk melawan pasukan Ahzab, beliau mengakhirkan salat zuhur dan asar sampai waktu magrib. Karena begitu dahsyatnya perang. Para sahabat ketika mereka tidak mendengar azan salat subuh karena begitu dahsyatnya perang melawan Persia, ketika itu sebagian mereka ada yang berjaga di gerbang, ada yang berjaga di pos penjagaan, sehingga akhirnya mereka salat subuh di waktu duha”. (Fatawa ad-Durus, no. 130).

Syaikh Dr. Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar hafizhahullah ketika ditanya tentang membatalkan salat ketika gempa, beliau menjelaskan:

فالأصل أن المصلي إذا دخل في صلاته يحرم عليه قطعها اختياراً، أما إذا قطعها لضرورة كحفظ نفس محترمة من تلف أو ضرر، أو قطعها لإحراز مال يخاف ضياعه، فيجوز له ذلك، وقد يجب في بعض الحالات كإغاثة ملهوف وإنقاذ غريق أو إطفاء حريق، أو قطعها لطفل أو أعمى يقعان في بئر أو نار.

“Hukum asalnya tidak boleh seseorang sembarang membatalkan salat jika sudah masuk ke dalam salat. Adapun jika ia membatalkan salatnya karena darurat, seperti untuk menjaga jiwa yang terjaga dari kebinasaan atau bahaya, atau membatalkan salat untuk menjaga hartanya yang khawatir hilang, maka itu diperbolehkan. Bahkan wajib untuk membatalkannya dalam sebagian keadaan seperti untuk menolong orang membutuhkan pertolongan, untuk menyelamatkan orang yang tenggelam, atau untuk memadamkan kebakaran, atau untuk menyelamatkan anak kecil atau orang buta yang akan jatuh ke sumur atau ke dalam api”.

ولا يجوز للإمام أن يكمل صلاته في الحال المذكورة، بل الواجب عليه أن يأمر المصلين بالخروج فورا، وخارج المسجد بعيدا عن الأبنية فحفظ النفوس البشرية من الهلاك من كليات المقاصد القطعية، وفواتها لا يستدرك، أما فوات الصلاة في وقتها فيستدرك، حتى لو فات وقتها فلا بأس، ويكون عليهم القضاء.

“Dan tidak boleh imam melanjutkan salatnya dalam keadaan demikian. Bahkan wajib baginya untuk membatalkan salat dan memerintahkan orang-orang untuk keluar dengan segera. Keluar dari masjid untuk menjauh dari bangunan. Menjaga jiwa dari kematian dalam salah satu maqashid syari’ah yang sangat jelas. Jika jiwa tidak terselamatkan, ia tidak bisa digantikan. Namun jika salat terlewatkan, ia masih bisa diulang kembali pada waktunya. Bahkan andaikan menunda salat karena ada gempa sampai keluar dari waktunya pun, ini tidak mengapa. Sehingga wajib bagi mereka untuk mengqadanya”. 

(Fatawa Abdullah bin Muhammad Ath-Thayyar, no. 4529).

Dan orang yang membatalkan salat karena menyelamatkan diri dari gempa, tidak dikatakan kurang imannya atau semisalnya. Justru ini dalam rangka menjalankan perintah Allah ta’ala untuk menghindarkan diri dari kebinasaan. 

Al-Azraq bin Qais rahimahullah mengatakan:

كُنَّا بالأهْوَازِ نُقَاتِلُ الحَرُورِيَّةَ، فَبيْنَا أنَا علَى جُرُفِ نَهَرٍ إذا رَجُلٌ يُصَلِّي، وإذا لِجَامُ دابَّتِهِ بيَدِهِ، فَجَعَلَتِ الدَّابَّةُ تُنازِعُهُ وجَعَلَ يَتْبَعُهَا – قالَ شُعْبَةُ: هو أبو بَرْزَةَ الأسْلَمِيُّ

“Dahulu ketika kami berada di Ahwaz untuk memerangi orang-orang Haruriyah. Ketika aku ada di tepi sungai, aku melihat ada seorang laki-laki yang sedang salat. Tali kekang hewan tunggangan berada di tangannya. Kemudian hewan tunggangannya pun berusaha melepaskan diri kemudian lari. Lelaki tersebut pun (membatalkan salat) lalu mengejar hewan tunggangannya. Syu’bah berkata: lelaki tersebut adalah Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu’anhu” (HR. Al-Bukhari no.1211).

Seorang sahabat yang mulia, Abu Barzah Al-Aslami radhiyallahu’anhu, membatalkan salatnya agar tidak kehilangan hewan tunggangannya. Dan sungguh tidak layak jika ada yang mengatakan iman beliau kurang atau lemah! Sama sekali tidak layak. Oleh karena itu, tidak boleh mengatakan hal yang demikian kepada orang yang membatalkan salat karena menyelamatkan diri dari gempa. Selama ia tetap mengqada salatnya ketika kondisinya telah aman.

Wallahu a’lam, semoga Allah ta’ala memberi taufik.

Walhamdulillahi rabbil ‘alamin, wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.